Senin, 07 Juli 2014





Kembali mengingat peristiwa tahun 90-an, dunia saat itu gempar dengan berita besar seorang bayi berumur 2 bulan dari keluarga Katholik di Afrika yang menolak dibaptis. “Mama, unisibi baptize naamini kwa Allah, na jumbe wake Muhammad” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Ayah dan ibunya, Domisia-Francis, pun bingung. Kemudian didatangkan seorang pendeta untuk berbicara kepada bayinya itu: “Are You Yesus?” (Apakah kamu Yesus?).

Kemudian dengan tenang sang bayi Syarifuddin menjawab:“No, I’m not Yesus. I’m created by God. God, The same God who created Jesus” (Tidak, aku bukan Yesus. Aku diciptakan oleh Tuhan, Tuhan yang sama dengan yang menciptakan Yesus). Saat itu ribuan umat Kristen di Tanzania dan sekitarnya dipimpin bocah ajaib itu mengucapkan dua kalimat syahadat.

Bocah Afrika kelahiran 1993 itu lahir di Tanzania Afrika, anak keturunan non Muslim. Sekarang bayi itu sudah remaja, setelah ribuan orang di Tanzania-Kenya memeluk agama Islam berkat dakhwahnya semenjak kecil. Syarifuddin Khalifah namanya, bayi ajaib yang mampu berbicara berbagai bahasa seperti Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Ia pun pandai berceramah dan menterjemahan al-Quran ke berbagai bahasa tersebut. Hal pertama yang sering ia ucapkan adalah: “Anda bertaubat, dan anda akan diterima oleh Allah Swt.”

Syarifuddin Khalifah hafal al-Quran 30 juz di usia 1,5 tahun dan sudah menunaikan shalat 5 waktu. Di usia 5 tahun ia mahir berbahasa Arab, Inggris, Perancis, Italia dan Swahili. Satu bukti kuasa Allah untuk menjadikan manusia bisa bicara dengan berbagai bahasa tanpa harus diajarkan.

Latar Belakang Syarifuddin Khalifah

Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal al-Quran dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Swt.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animisme. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.

Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.

Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad).

Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan.

Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal aneh. Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi: “Fatuubuu ilaa baari-ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwattawwaburrahiim.”

Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. al-Baqarah ayat 54.

Domisia khawatir anaknya kerasukan setan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan setan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.

“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan setan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah,” kata Abu Ayub.

Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal al-Quran dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.

Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang

Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru 5 tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.

Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.

Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syaikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.

Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal al-Quran pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung.

Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.

Kinilah saatnya Syaikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.

Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka.

Selain pandai menggunakan ayat al-Quran, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.

Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syaikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalami tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.

Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syaikh kecil itu masih lima tahun.

Para ulama dan habaib sangat mendukung dakwah Syaikh Syarifuddin Khalifah. Bahkan ulama besar seperti al-Habib ali al-Jufri pun rela meluangkan waktunya untuk bertemu anak ajaib yang kini remaja dan berjuang dalam Islam. (Dikutip dari buku Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah).

Minggu, 06 Juli 2014

KH Dachlan Salim Zarkasyi sang penemu metode Qiraati

KH. Dachlan Salim Zarkasyi
( Penemu Metode Qiraati )


            Segala puji bagi Allah Azza Wa Jalla, yang telah melimpahkan anugrah kepada kita semua. Hingga saat ini kita masih merasakan anugrah itu yang berupa kesehatan, keimanan danmahabbah orang - orang yang terpilih menjadi Ahlul qur’an.
            Sholawat dan salam mari kita sanjungkan ke pangkuan insan terpilih, insan teladan sepanjang zaman dan penerima wahyu dari ar-Rohman berupa al-Qur’an yang membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang benderang.
            Syukur dan terimakasih kepada Allah yang telah mempertemukan kita kepada seorang guru al-Qur’an yang sangat arif dan penuh wawasan, pendobrak system pengajaran yang sudah lama yang berjalan dari zaman ke zaman, penerima ilmu dari Allah SWT. Untuk mempersatukan umat dari berbagai kelompok dan golongan, sehingga merasa satu dan bersatu dalam tujuan. Yaitu, menyebarluaskan ilmu baca al-Qur’an yang benar, fasih dan penuh keikhlasan. Beliau adalah al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi yang sangat teliti dan hati-hati di setiap langkah yang dilalui.

Menurut kami beliau adalah
1. “Seorang waliyullah yang sangat amat pandai dalam menyembunyikan kewaliannya”
            Pada suatu saat saya sowan silaturrahim, kebetulan tidak ada tamu selain saya. Beliau mengajarkan kepada saya tentang tawadhu’, ilmu sufi, sampai beliau menjelaskan dengan cerita si A, si B dan seterusnya semua itu waliyullah. Ada sebuah foto yang beliau tunjukkan kepada saya seraya dawuh, “Ini adalah waliyullah yang sangat pandai menyembunyikan kewaliannya”. Berhubung saya belum kenal yang di foto itu, saya bertanya “Siapakah ini yai?” beliau menjawab, “Beliau adalah Gus Mik”. Kemudian saya matur secara sepontan, mungkin di luar kesadaran saya, “Kalau begitu Pak Kyai juga waliyullah karena
لا يعرف الولى الا الولى
Sambil wajah beliau menunduk dan berkaca-kaca beliau diam dan tidak berkomentar. Menurut pendapat saya diamnya beliau adalah menunjukkan bahwa tebakan saya adalah benar berdasarkan firman Allah:
اللهُ وَلِىُّ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِصلى
Artinya, “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)”. (al-Baqoroh:257)

2. “Beliau adalah seorang hafidz yang amat sangat pandai menyembunyikan kehafidhaannya”
            Beliau sering dawuh kepada saya, “Alhamdulillah guru al-Qur’an saya semua hafidh”. TPA Darul Istiqomah, saya termasuk orang yang ikut khidmat di sana. Tempo dulu, setiap anak khotam ijazahnya ditandatangani oleh al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi (Pengasuh TPA Raudlotul Mujawwidin). Pada khotam ke tiga tahun 1993 yang khotam di TPA Darul Istiqomah ada 100 anak, seperti biasa saya sowanke Semarang mohon tandatangan beliau dengan ijazah yang sudah tertulis rapi. Nama Bapak K.H. Dahlan, kami kasih tambahan AL HAAFIDH. Dengar tutur bahasa yang tidak menyakitkan hati, beliau berkata, “Saya ndak berani nandatangani”. Saya berkata, “Kanapa yai?”. Beliau menjawab, “Saya kan tidak hafidh, kok ditulis al-hafidz. Maaf ya, dibetulkan nanti saya akan tandatangani”. Dengan hati marem tapi penuh harap, saya pulang ke kudus untuk membenahi ijazah.
            Walaupun begitu hati tetap percaya dan yakin, bahwa Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang hafidh. Buktinya, setiap ada orang baca al-Qur’an, satu ayat bahkan satu kalimat saja beliau sudah bisa menyimpulkan karakter bacaan orang tersebut.
            Suatu hari ada tamu seorang hafidh dan minta ditashih. Beliau dawuh, “Sudah ndak usah, langsung serahkan saja foto dan identitas anda, nanti akan kami buatkan Syahadah”. Peristiwa semacam ini berulangkali terjadi, berpuluh-puluh para hafidh yang ingin ditashih Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi. Pada akhirnya suatu hari sayasowan silaturahim. Beliau sudah duduk diruang tamu, setelah saya salam dan salim, seperti biasa dengan senyum has, saya dipersilahkan duduk. Tidak lama kemudian Pak Bunyamin membawa dua cangkir teh. Satu untuk yai Dahlan satu untuk saya. Kemudian Bapak K.H. Dahlan bercerita, “Kemaren ada tamu seorang hafidh minta saya tashih, kemudian saya niat ngaji (berguru dengan orang itu). Akhirnya kami tashih, ternyata menurut aturan Qiraati orang itu belum lulus, karena banyak kesalahan”. Dengan peristiwa itu, walaupun hafidh tetap harus ditashih.
Bahkan beliau dawuh kepada saya, “Pak Halimi bila ada orang hafidh minta di simak bacaannya, simak saja dengan niat ngaji pada orang itu” kata-kata itu yang menjadi kami mau menyimak bacaan orang-orang yang kami tidak kenal.
Bukti bahwa Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang hafidh adalah dawuh seorang waliyullah di Moga Pemalang Mbah Nor Moga.
Kyai Dahlan cerita, “Saya itu orang yang senang ziarah silaturahim pada waliyullah, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Pada suatu hari saya silaturahim ke Mbah Nor Moga. Di sana banyak tamu, sampai rumah beliau penuh dengan tamu. Berhubung saya datangnya kari (belakangan), maka saya duduk di pojok ruangan”. Mbah Nor berkata, “Ngaji al-Qur’an 2 tahun apal al-Qur’an iku biasa, 2 bulan apal, biasa. Dua hari apal, yo biasa, seng luar biasa, ono wong ngaji al-Qur’an 2 daqiqoh(2 detik) apal, iku luar biasa. Iki ono wonge neng kene (ada di sini) opo sampean ora pengen weruh wonge?” tanya Mbah Nor pada para tamu. Para tamu serentak jawab, “Inggih kepengen mbah”. Kemudian Mbah Nor jawab sambil menunjukkan jarinya ke arah pojok ruangan (Pak Yai Dahlan), “Iku lo wonge”. Semua wajah berpaling memandang pak Yai Dahlan. Kemudian Yai Dahlan bilang pada saya, “Saya bingung waktu itu, wong saya tidak apal kok dibilang apal al-Qur’an”.

            Untuk kami (Achmad Chalimi) yakin dengan haqqul yaqin bahwa al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan adalah seorang hafidh.




KH. Bunyamin Dachlan
( Putra KH. Dachlan SZ. )

Bukti bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah seorang yang hafidh, pada waktu beliau wafat banyak teman-teman Bapak K.H. Dahlan yang bilang pada ustadz Bunyamin bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah seorang hafidh. Bahkan ada seorang teman beliau memaksa pada ustadz Bunyamin untuk bersaksi bahwa Bapak K.H. Dahlan adalah hafidzh dengan kalimat, “Bunyamin kamu harus bersaksi bahwa ayahmu itu hafal Qur’an”. Ustadz Bunyamin menolak kesaksian itu, namun teman Yai Dahlan tadi memaksa pada Ustadz Bunyamin. Akhirnya, ustadz Bunyamin bersaksi bahwa ayah adalah seorang hafidh. Jawab teman Yai tadi, “Gitu dong, tinggal bersaksi saja kok ndak mau”.

3. Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi adalah seorang tawadhu’ tidak mementingkan diri sendiri, melainkan yang dipentingkan adalah masalah umat. Sangat menghormati tamu, melalaikan kehormatan pribadi. Setiap tamu yang datang pasti disambut dengan senyum dan tutur kata yang membuat tamu merasa krasan dan betah di sampingnya.
            Pada suatu hari ada seorang yang kebingungan dalam hidupnyadatang bertamu. Seperti biasanya tamu tadi disambut dengan senyum dan tutur kata yang indah. Tamu yang berinisial M.N. bicara banyak. Akhirnya berkata pada beliau, “Pak Dahlan, saya ini orang yang benci agama, agama yang paling saya benci apa pak Dahlan tau?” Tanya tamu tadi. Beliau menjawab, “Ya ndak tahu”. Kemudian tamu tadi menyahut kata-kata, “Agama yang paling saya benci adalah agama Islam”. Beliau tidak marah, tapi senyum manis yang menyambut sambil mempersilahkan tamu tadi minum teh yang telah disuguhkan. Tamu tadi terheran-heran kenapa pak Dahlan tidak marah? Kemudian tamu tadi pamit pulang, beliau mengantar sampai teras. Setelah tamu tadi agak jauh beliau masuk rumah.
            Pada hari berikutnya tamu M.N. tadi datang lagi, dan seperti biasanya, disambut dengan senyum has beliau, dipersilahkan duduk, kemudian disuguhi air teh. Tamu tadi juga berkata yang sama, “Pak Dahlan, saya adalah orang yang benci agama, dan agama yang paling saya benci adalah agama Islam”. Dengan senyum dan tutur kata yang indah, tamu tadi dipersilahkan minum teh, bahkan diajak makan siang bersama. Setelah makan dan minum tamu tadi berpamitan sambil heran kenapa pak Dahlah tidak marah, malah diajak makan siang bersama. Kemudian beliau antar tamu tadi sampai di luar. Setelah agak jauh baru beliau masuk rumah.
Di hari ke tiga tamu tadi datang lagi. Setelah dipersilahkan duduk tamu tadi bilang, “Pak Dahlan tolong saya diajari sholat dan ngaji!” Dengan merasa terharu yang disembunyikan beliau, beliau menjawab, “InsyaAllah silahkan datang kapan saja, akan kami ajarkan sholat dan ngaji” Akhirnya M.N. menjadi seseorang yang paling tekun dengan bimbingan beliau. Sampai dengan pergi ibadah haji, beliau yang membimbing
سبحان الله والحمد لله
            Pada tahun 1996 kami merasakan betul perhatian dan keprihatinan beliau terhadap masalah pendidikan al-Qur’an, khususnya di Kudus. Karena tajamnya pikiran danfelling beliau, sebingga beliau merasakan adanya pelaksanaan amanah koordinator cabang (korcab) yang dulu disebut dengan istilah koordinator daerah (korda) yang asal-asalan. Di Kudus -sebagaimana yang kami ceritakan- terdapat dua Korda, yaitu Korda I dan Korda II. Akhirnya beliau dawuhi ustadz Bunyamin untuk super visi (turba) ke Kudus dengan cara merekam keberhasilan anak didik tentang bacaan Qiraati dan al-Qur’annya. Ustadz Bunyamin didawuhi merekam TPQ bimbingan Korda Kudus I yang kurang berhasil dan TPQ Korda Kudus II yang terbaik, nenengah dan kurang berhasil.
            Karena waktu yang kurang memadai, maka ustadz Bunyamin mengajak kami mendatangi 3 TPQ bimbingan Korda Kudus II. Yaitu:
1.TPQ Tashilul Murottilin Kudus Kota                                        (terbaik)
2.TPQ… Peganjaran                                                                 (sedang)
3.TPQ Roudlotul Mujawwidin Sambeng Karang Malang             (kurang berhasil)
Bacaan santri TPQ tersebut direkam oleh ustadz M. Saifuddin yang waktu itu menjabat Sekretaris Korda Kudus I. Bahkan, ditemukan KBM dari salah satu TPQ tersebut ada guru yang mengajar 3 anak sekaligus dengan jilid yang berbeda. Kami memperhatikan ustadz Bunyamin sangat sedih dan setiap saat sering tarik nafas panjang sambil geleng-geleng kepala. Kami pun diam dan tidak berani bicara panjang lebar karena kami merasa ikut menjadi bagian orang Kudus. Hal tersebut menjadi guru besar kami untuk introspeksi diri dan mawas diri. Kurang lebih jam 5 sore, ustadz Bunyamin mengajak kami berpamitan pulang. Kami pun tambah bingung “kok gitu ya?” (istilah kami nyolok moto).
            Sepulang dari Kudus, hasil rekaman tersebut dihaturkan pada beliau Bapak K.H. Dahlan. Setelah kaset disetel dan didengarkan, beliau sedih sambil terus-menerus membaca istighfar. Kesedihan beliau adalah tanda bakti perhatian beliau terhadap pendidikan al-Qur’an dan wawasan beliau tentang nasib guru pengajar al-Qur’an yang sembrono. Karena kita mengajarkan 1 kalimat saja dari al-Qur’an salah, maka kita akan “pesiun dosa”. Maka dari itu beliau berwasiat, “Jangan ajarkan al-Qur’an yang salah, karena yang benar itu mudah”. Wasiat ini adalah kendali yang kokoh dan luar biasa bagi kita sepanjang zaman. Mari kita sadari!
Setelah mendengarkan semua hasil rekaman dari Kudus tadi. Kemudian beliau memberikan tugas kepada ustadz Bunyamin untuk silaturahim ke Gus Ulin Nuha Arwani. Ustadz Bunyamin pun datang ke Kudus mengajak kami sowan ke Gus Ulin, namun akhinya kami bertemu di rumah Gus Ulil Albab Arwani. Ustadz Bunyamin kamiderekke dengan pengurus Korcab I: KH. A. Musyaffa’ al-Hafidh, Ustadz M. Saifuddin dan saya (Achmad Chalimi). Dan dari pihak Korcab Kudus II: KH. Ulin Nuha Arwani al-Hafidh, KH. Ulil Albab Arwani al-Hafidh dan KH. Manshur al-Hafidh. Kemudian ustadz Bunyamin menjelaskan maksud kedatangannya adalah perintah dari beliau bapak KH. Dahlan untuk melaporkan hasil di Kudus khususnya di 3 TPQ dan menyerahkan hasil rekaman tersebut.
Setelah bicara banyak membahas kesana-kemari, tentang proses KBM TPQ di Kudus dan hasilnya, maka beliau dan pengurus Korcab Kudus II sepekat untuk mengadakan pembenahan-pembenahan, dan akhirnya diselenggarakan pertemuan sekaligus pembinaan istilah dulu) di MAK Banat Krandon.
Pada tahun yang sama sekitar 1996 bulannya saya lupa, ada rombongan tamu dari Kudus bersilaturahim. Seperti biasa tamu disambut dengan senyum dan tutur kata yang indah. Setelah beliau berbicara tentang hal-hal yang menyangkut pendidikan al-Qur’an. Satu ustadz dari rombongan tadi mohon ditashih oleh beliau. Jawab beliau, “Tidak usah, saya yakin dari Kudus al-Qur’annya baik-baik karena Mbah Arwani”. Namun ustadz tadi memaksa, akhirnya dia ditashih oleh beliau. Namun, baru disuruh baca Qiraati jilid VI halaman 20 saja sudah banyak yang salah baca. Apalagi lembaran-lembaran yang ditulis oleh beliau, tentu banyak lagi salahannya. Akhirnya beliau berkata, “Berhubung ustadz bacaannya banyak yang salah, maka menurut Qiraati ustadz tidak lulus”. Kemudian ustadz tadi menjawab sambil menunjukkan syahadah dari Ma’arif Kudus berkata, “Saya kan sudah lulus tashih di Kudus. Ini buktinya dari Ma’arif, saya dikasih Syahadah”. Jawab beliau, “Karena ustadz banyak salah baca, maka mnurut Qiraati ustadz tidak lulus”.
            Rombongan pulang, kemudian di Kudus heboh ada kata-kata yang tersebar “Bapak K.H. Dahlan mengatakan bahwa Ulama’ Kudus tashihnya tidak sah”: Kata-katanya diplintir untuk mengobati kekecewaan. Kudus semakin memanas situasinya. Akhirnya kesepakatan Penguras Ma’arif dengan Qiraati pusat mengadakan tashih ulang yang diadakan di MAK Banat Rrandon dirawuhi Ustadz Bunyamin dan ustadz Imam Murjito. Tashih diadakan 2 hari dengan jumlah peserta 140 ustadz-ustadzah. Hari pertama 70 orang yang lulus 8 orang. Hari kedua 70 orang yang lulus 12 orang. Dari 140 orang yang lulus 20 orang.
            Dengan hasil kelulusan yang kurang memuaskan, di antara peserta ada yang bicara di forum, “Bapak, kami ini adalah guru-guru yang sudah lama mendidik al-Qur’an, tapi kenapa hasilnya kok seperti ini, ini berarti bapak menjatuhkan kami” dengan kecewa ustadzah itu berbicara kepada ustadz Bunyamin. Jawab ustadz Bunyamin, “Bapak ibu, ustadz ustadzah, kami dari Semarang datang ke sini (Kudus) bukan menjatuhkan bapak ibu, namun membangkitkan bapak ibu”. Namun, jawaban yang bijaksana dari ustadz Bunyamin itu tidak bisa diterima dengan logowo.
            Akhirnya situasi di kalangan Korcab Kudus II (dulu ada dua koordinator) dengan semarang semakin panas, sampai ulama Kudus mengecab “al-Mukarrom Bapak K.H. Dahlan Salim Zarkasyi berani mengatakan ulama Kudus tashihnya tidak sah”.
Kami (korcab Kudus I) menjadi gelisah atas situasi yang meresahkan umat. Bahkan mencaci dan memojokkan Bapak K.H. Dahlan. Akhirnya kami (Achmad Chalimi) mohon izin kepada Bapak K.H. Dahlan untuk menemui K.H. Sya’roni al-Hafidh demi ketentraman dan keharmonisan umat Namun jawab Bapak K.H. Dahlan, “Tidak usah”. Kami pun tidak berani menemui K.H. Sya’roni al-Hafldh. Situasi semakin menjadi-jadi, kami pun minta izin lagi kepada Bapak K.H. Dahlan, namun beliau tidak mengizinkan. Yang ketiga kali kami minta izin kepada beliau untuk menemui K.H. Sya’roni al-Hafidh. Kami mengutarakan alasan, “Pak yai” matur kami kepada beliau, “kami tidak rela pak yai dimaki-maki dan dijelek-jelekkan oleh orang, mohon diizikan saya tak menjelaskan kepada yai Sya’roni atas peristiwa rombongan dari Kudusyang salah satunya minta ditashih oleh pak yai. Akibatnya terjadi kerenggangan di antara kita”. Namun, jawab beliau, “Tidak usah. wong saya yang dijelek-jelekkan kok kamu yang tidak rela!!!”
            Karena tiga kali kami isti’dzan tidak diijini, maka terpaksa kami sowan K.H. Sya’roni tanpa izin dari beliau. MasyaAllah hasilnya saya kualat (terjadi hal-hal yang tidak menyenangkan hati). Itulah di atara sifat mahmudah dari beliau (Bapak K.H. Dahlan). Andaikata apa yang kami lihat, kami tahu dan apa yang kami saksikan dari beliau kami beberkan di sini mungkin satu minggu tidak rampung.

4. Bapak K.H. Dahlan adalah seorang ulama yang sangat istimewa dan sangat tawadhu’ namun pandai menyembunyikan keistimewaannya. Sangat memikirkan umat, dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dan siang malam yang dipikirkan adalah umat dari segala aspek.
            Kami pernah didatangi beliau + 1995 siang-siang + jam 2 siang. Beliau naik angkut umum dengan ustadz Fuad Zen. Kedatangan beliau mengejutkan kami, beliau berkata, “Pak Halimi hari ini di Kudus ada khataman di desa Japan Colo (gunung Muria) tolong saya diantar” berhubung beliau tidak membawa kendaraan sendiri, maka kami cari mobil. Namun, hanya mendapat mobil yang tidak layak dinaiki beliau (mobil baru mau dicat, jadi masih didempul).
            Sepanjang jalan beliau, kami pun perhatikan, Selaiu membaca hamdalah dan tasbihdan matanya berkaca-kaca. Dan beliau berkata kepada saya, “Pak Halimi, andaikata saya menangis mulai bangun tidur sampai menjelang tidur kembali karena syukur, itu belum imbas atas nikmat Allah yang diberikan kepada kami. Daerah pelosok pegunungan, jalan naik-turun dan lika-liku begini kok qiraati ada, dan ilmu mengajar al-Qur’an bekembang di sini, itu semua minAllah”.
Sesampai di tempat khotmil qur’an, acara dimulai. Giliran sambutan dari beliau diucapkan M.C., namun masih menangis syukur dan menugaskan kami untuk maju mewakili beli’au. Ada seorang ustadzah yang tanya kepada saya, “Pak mau tanya, anak-anak itu loh kok kalau belajar rame dan sulit dikendalikan, akhimya pelajaran kurang difahami, bagaimani mengatasi hal tersebut?” Pertanyaan ustadzah tersebut kami jawab, “Sebelum ibu mengajar hadiyah Fatihah dulu pada Bapak K.H. Dahlan.!”
Bagaimana tanggapan beliau atas jawaban kami pada ustadzah tersebut? Beliau diam. Kesimpulan kami beliau mengizinkan meridhokan.
Ini dikuatkan oleh Habib Husain al-Yahya dari Kudus sewaktu adik saya (Ali Rif an) matur pada Habib Husain. Kata adik saya, “Bib, anak-anak ini kok suit diatur. Mohon nasehatnya!” Habib Husian bilang, “Ajak anak-anak bertawasul pada K.H. Dahlan, pasang gambar beliau, anak-anak suruh baca Fatihah untuk beliau dan pandang bersama foto beliau”. Saran dari Habib Husain tadi dilaksanakan adik saya. Dia minta foto Bapak K.H.Dahlan sama saya, padahal saya hanya punya satu foto lukisan beliau. Jawab kami, “Nanti kami mintakan pak Bin bila kami ke Semarang”. Kami dikasih dua fotonya Bapak K.H. Dahlan oleh pak Bin, satu untuk adik dan satu untuk saya. Sampai sekarang kebiasaan proses KBM di TPQ adik saya sebelum masuk kelas doa bersama membaca MT dan tawajjuh kepada guru. Hasilnya sungguh luar biasa, anak-anak tekun belajar dan KBM lancar.
            Keikhlasan dan semangat yang tak kunjung padam dari Bapak K.H. Dahlan adalab suatu uswah bagi kita semua. Semoga Allah menjadikan keteladanan beliau, membawa umat termasuk kita menjadi khoiro ummah. Amin ya Robbal Alamin.
Berikut ini kami sampaikan sebuah sya’ir:
Ulama akhir terbagi dua #
Ada ulama yang istimewa
Kerja semangat punya pikiran #
Tidak berputus sama Tuhan
Ulama kedok bersemangat #
Membimbing kawau seiuruh rakyat
Hati terdorong pada nafsu #
Menuju dunia pikiraya palsu
Beliau sering berwasiat kepada siapa saja yang berkunjung, termasuk saya. Ada tiga wasiat yang sering beliau berikan kepada para muridnya, yaitu:
Guru al-Qur’an harus:       1 – Sering tahajjud
2- Sering tadarrus
3-Ikhlas
Tiga hal ini adalah kimci keberhasilan amal ibadah seseorang.
  • Tahajjud:       Ayo santri gage tangi sholat tahajjud #
Diparingi penjaluke wongkang sujud
Melek-melek wong turu gagean melek #
Yen wes melek amal sholih nggo kito dewek
Untung temen jam telune kito tangi
Yen wes tangi gage tandang sholat bengi
  • Tadarrus:      Ilmu iku dadi obor dadi damar #
Ayo ngaji mumpung Qur’an ijih gumelar
Qur’an iku mu ‘jizat yang paling agung #
Nyelametaken penyakit susah lan bingung
Qur’an hadis ijma’ qiyas sumberane #
Kanggo ngatur urip kito neng dunyane
  • Ikhlas:          Untung temen wonge ayu neng baguse #
Sayang temen atine longko ikhlase
Wadon shobar dadi kembangane jagat
Banget ikhlase ayune ngliwati adat
Niat amal wajib ikhlas ajo liyan
Banget larang koyo regane berlian
            Di hari-hari saya berjumpa dengan beliau +tahun 2000 beliau mendatangi khotaman di TPQ Darul Istiqomah yang terakhir (TPQ yang kami ikut khidmad di situ) dengan keadaan fisik beliau yang menurut saya sudah seharusnya tidak bepergian, namun beliau rawuh di khotaman yang ke 10 TPQ Daml Istiqomah dengan keadaan berjalan harus dengan payah. SubhanAllah, keikhlasan beliau dan perhatian beliau pada kita menjadi kenangan sepanjang zaman. Semoga Allah menerima semua amal sholihnya dan memaafkan kehilafannya. Amin.
            Pada hari Jum’at Legi Desember tanggalnya saya lupa tahun 2000, karena saya tidak bisa sowan ke Semarang, saya suruh anak saya Sucipto untuk ke Semarang. Beliau dalam keadaan sakit. Kemudian beliau berpesan kepada anak saya lewat Pak Bunyamin, “Pak Halimi diarep-arep (ditunggu kedatangannya) oleh ayah” kata ustadz Bunyamin. Kemudian esok harinya, Sabtu Siang saya sowan ke Semarang. Saya dipersilahkan masuk kamar beliau yang sedang tiduran, oleh ustadz Bunyamin. Begitu saya mengucapkan salam, beliau yang sedang tiduran, mau duduk tapi tidak bisa karena keadaan fisik yang sangat lemas.
            Kemudian saya duduk di lantai, namun beliau meminta saya untuk duduk di sebelahnya, sambil dawuh, “Pak Halimi, kok lama sekali tidak ke sini? (padahal minggu lalu saya sudah sowan)”. Kata beliau, “Saya kangen pak Halimi”. Jawab saya, “Mohon maaf yai, ini saya baru bisa sowan”. Jawab beliau dengan suara yang terteteh-teteh, “Ndak apa-apa, aku ingin pesen sama sampean”. “nggih yai” jawab saya. “semoga hidup kita diridloi Allah” kata beliau. “amin” jawab saya. Kemudian beliau berwasiat sama saya, “Mari kita ikhlas dalam berjuang dan beramal!!!” itulah kalimat akhir sekaligus wasiat akhir beliau pada kami (IKHLAS).
Semoga kami bisa belajar melakukan ikhlas dan diaku menjadi murid beliau.
Amin ya Robbal Alamin.

Sumber : Ikhbarkyaidachlan.wordpress.com

Sabtu, 05 Juli 2014

Keajaiban ASI



Keajaiban Air Susu Ibu



Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya;  ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah  kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman, 31:14)
Air susu ibu (ASI) adalah sebuah cairan tanpa tanding ciptaan Allah untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dan melindunginya dalam melawan kemungkinan serangan penyakit. Keseimbangan zat-zat gizi dalam air susu ibu berada pada tingkat terbaik dan air susunya memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. Pada saat yang sama, ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf. Makanan-makanan tiruan untuk bayi yang diramu menggunakan tekhnologi masa kini tidak mampu menandingi keunggulan makanan ajaib ini.
Daftar manfaat ASI bagi bayi selalu bertambah setiap hari. Penelitian menunjukkan, bayi yang diberi ASI secara khusus terlindung dari serangan penyakit sistem pernapasan dan pencernaan. Hal itu disebabkan zat-zat kekebalan tubuh di dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan serangan penyakit. Sifat lain dari ASI yang juga memberikan perlindungan terhadap penyakit adalah penyediaan lingkungan yang ramah bagi bakteri ”menguntungkan” yang disebut ”flora normal”. Keberadaan bakteri ini menghambat perkembangan bakteri, virus dan parasit berbahaya. Tambahan lagi, telah dibuktikan pula bahwa terdapat unsur-unsur di dalam ASI yang dapat membentuk sistem kekebalan melawan penyakit-penyakit menular dan membantunya agar bekerja dengan benar.
Karena telah diramu secara istimewa, ASI merupakan makanan yang paling mudah dicerna bayi. Meskipun sangat kaya akan zat gizi, ASI sangat mudah dicerna sistem pencernaan bayi yang masih rentan. Karena itulah bayi mengeluarkan lebih sedikit energi dalam mencerna ASI, sehingga ia dapat menggunakan energi selebihnya untuk kegiatan tubuh lainnya, pertumbuhan dan perkembahan organ.
Air susu ibu yang memiliki bayi prematur mengandung lebih banyak zat lemak, protein, natrium, klorida, dan besi untuk memenuhi kebutuhan bayi. Bahkan telah dibuktikan bahwa fungsi mata bayi berkembang lebih baik pada bayi-bayi prematur yang diberi ASI dan mereka memperlihatkan kecakapan yang lebih baik dalam tes kecerdasan. Selain itu, mereka juga mempunyai banyak sekali kelebihan lainnya.
Salah satu hal yang menyebabkan ASI sangat dibutuhkan bagi perkembangan bayi yang baru lahir adalah kandungan minyak omega-3 asam linoleat alfa. Selain sebagai zat penting bagi otak dan retina manusia, minyak tersebut juga sangat penting bagi bayi yang baru lahir. Omega-3 secara khusus sangat penting selama masa kehamilan dan pada tahap-tahap awal usia bayi yang dengannya otak dan sarafnya berkembang secara nomal. Para ilmuwan secara khusus menekankan pentingnya ASI sebagai penyedia alami dan sempurna dari omega-3. 
Selanjutnya, penelitian yang dilakukan para ilmuwan Universitas Bristol mengungkap bahwa di antara manfaat ASI jangka panjang adalah dampak baiknya terhadap tekanan darah, yang dengannya tingkat bahaya serangan jantung dapat dikurangi. Kelompok peneliti tersebut menyimpulkan bahwa perlindungan yang diberikan ASI disebabkan oleh kandungan zat gizinya. Menurut hasil penelitian itu, yang diterbitkan dalam jurnal kedokteran Circulation, bayi yang diberi ASI berkemungkinan lebih kecil mengidap penyakit jantung. Telah diungkap bahwa keberadaan asam-asam lemak tak jenuh berantai panjang (yang mencegah pengerasan pembuluh arteri), serta fakta bahwa bayi yang diberi ASI menelan sedikit natrium (yang berkaitan erat dengan tekanan darah) yang dengannya tidak mengalami penambahan berat badan berlebihan, merupakan beberapa di antara manfaat ASI bagi jantung.
Selain itu, kelompok penelitian yang dipimpin Dr. Lisa Martin, dari Pusat Kedokteran Rumah Sakit Anak Cincinnati di Amerika Serikat, menemukan kandungan tinggi hormon protein yang dikenal sebagai adiponectin di dalam ASI. Kadar Adiponectin yang tinggi di dalam darah berhubungan dengan rendahnya resiko serangan jantung. Kadar adiponectin yang rendah dijumpai pada orang yang kegemukan dan yang memiliki resiko besar terkena serangan jantung. Oleh karena itu telah diketahui bahwa resiko terjadinya kelebihan berat badan pada bayi yang diberi ASI berkurang dengan adanya hormon ini. Lebih dari itu, mereka juga menemukan keberadaan hormon lain yang disebut leptin di dalam ASI yang memiliki peran utama dalam metabolisme lemak. Leptin dipercayai sebagai molekul penyampai pesan kepada otak bahwa terdapat lemak pada tubuh. Jadi, menurut pernyataan Dr. Martin, hormon-hormon yang didapatkan semasa bayi melalui ASI mengurangi resiko penyakit-penyakit seperti kelebihan berat badan, diabetes jenis 2 dan kekebalan terhadap insulin, dan penyakit pada pembuluh nadi utama jantung.  
Fakta tentang "Makanan Paling Segar" [ASI]
Full hygiene may not be established in water or foodstuffs other than mother’s milk.
Fakta tentang ASI tidak berhenti hanya sampai di sini. Peran penting yang dimainkannya terhadap kesehatan bayi berubah seiring dengan tahapan-tahapan yang dilalui bayi dan jenis zat-zat makanan yang dibutuhkan pada tahapan tertentu. Kandungan ASI berubah guna memenuhi kebutuhan yang sangat khusus ini. ASI, yang selalu siap setiap saat dan selalu berada pada suhu yang paling sesuai, memainkan peran utama dalam perkembangan otak karena gula dan lemak yang dikandungnya. Di samping itu, unsur-unsur seperti kalsium yang dimilikinya berperan besar dalam perkembangan tulang-tulang bayi.
Meskipun disebut sebagai susu, cairan ajaib ini sebenarnya sebagian besarnya tersusun atas air. Ini adalah ciri terpenting, sebab selain makanan, bayi juga membutuhkan cairan dalam bentuk air. Keadaan yang benar-benar bersih dan sehat mungkin tidak bisa dimunculkan pada air atau bahan makanan, selain pada ASI. Namun ASI – sedikitnya 90% adalah air – , memenuhi kebutuhan bayi akan air dalam cara yang paling bersih dan sehat.
ASI dan Kecerdasan
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa perkembangan kemampuan otak pada bayi yang diberi ASI lebih baik daripada bayi lain. Penelitian pembandingan terhadap bayi yang diberi ASI dengan bayi yang diberi susu buatan pabrik oleh James W. Anderson – seorang ahli dari Universitas Kentucky – membuktikan bahwa IQ [tingkat kecerdasan] bayi yang diberi ASI lebih tinggi 5 angka daripada bayi lainnya. Berdasarkan hasil penelitian ini ditetapkan bahwa ASI yang diberikan hingga 6 bulan bermanfaat bagi kecerdasan bayi, dan anak yang disusui kurang dari 8 minggu tidak memberikan manfaat pada IQ.
Apakah ASI Dapat Memerangi Kanker?
Berdasarkan hasil seluruh penelitian yang telah dilakukan, terbukti bahwa ASI, yang dibahas dalam ratusan tulisan yang telah terbit, melindungi bayi terhadap kanker. Hal ini telah diketahui, walaupun secara fakta mekanismenya belum sepenuhnya dipahami. Ketika sebuah protein ASI membunuh sel-sel tumor yang telah ditumbuhkan di dalam laboratorium tanpa merusak sel yang sehat mana pun, para peneliti menyatakan bahwa sebuah potensi besar telah muncul. Catharina Svanborg, Profesor imunologi klinis di Universitas Lund, Swedia, memimpin kelompok penelitian yang menemukan rahasia mengagumkan ASI ini. Kelompok yang berpusat di Universitas Lund ini menjelaskan kemampuan ASI dalam memberikan perlindungan melawan beragam jenis kanker sebagai penemuan yang ajaib.
Awalnya, para peneliti memberi perlakuan pada sel-sel selaput lendir usus yang diambil dari bayi yang baru lahir dengan ASI. Mereka mengamati bahwa gangguan yang disebabkan oleh bakteri Pneumococcus dan dikenal sebagai pneumonia berhasil dengan mudah dihentikan oleh ASI. Terlebih lagi, bayi yang diberi ASI mengalami jauh lebih sedikit gangguan pendengaran dibandingkan bayi yang diberi susu formula, dan  menderita jauh lebih sedikit infeksi saluran pernapasan. Pasca serangkaian penelitian, diperlihatkan bahwa ASI juga memberikan perlindungan melawan kanker. Setelah menunjukkan bahwa penyakit kanker getah bening yang teramati pada masa kanak-kanak ternyata sembilan kali lebih sering menjangkiti anak-anak yang diberi susu formula, mereka menyadari bahwa hasil yang sama berlaku pula untuk jenis-jenis kanker lainnya. Menurut hasil penelitian tersebut, ASI secara tepat menemukan keberadaan sel-sel kanker dan kemudian membunuhnya. Adalah zat yang disebut alpha-lac (alphalactalbumin), yang terdapat dalam jumlah besar di dalam ASI, yang mengenali keberadaan se-sel kanker dan membunuhnya. Alpha-lac dihasilkan oleh sebuah protein yang membantu pembuatan gula laktosa di dalam susu.
Berkah Tanpa Tara Ini Adalah Karunia Allah
Ciri menakjubkan lain dari ASI adalah fakta bahwa ASI sangat bermanfaat bagi bayi apabila disusui selama dua tahun. Pengetahuan penting ini, hanya baru ditemukan oleh ilmu pengetahuan, telah diwahyukan Allah empat belas abad silam di dalam ayat-Nya:  ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan..." (QS, Al Baqarah, 2:233)
Sang ibu bukanlah yang memutuskan untuk membuat ASI, sumber zat makanan terbaik bagi bayi yang lemah yang memerlukan makanan di dalam tubuhnya. Sang ibu bukan pula yang menentukan beragam kadar gizi yang dikandung ASI. Allah Yang Mahakuasa-lah, Yang mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup dan memperlihatkan kasih sayang kepadanya, Yang menciptakan ASI untuk bayi di dalam tubuh sang ibu.